Kisah Keteguhan Cinta dan Cita-cita berasal dari Talumae

Kisah Keteguhan Cinta dan Cita-cita berasal dari Talumae

batan mereka, Tenri tidak cuma berparas cantik, dia terhitung pintar dan cerdas, sejak kecil dia selalu jadi juara kelas, apalagi dia pernah jadi juara dua terhadap suatu Olimpiade di Kota Makassar. Prestasi inilah yang menjadikan Tenri mendapat beasiswa kuliah di Kota Makassar. Disinilah drama kisah persahabatan mereka dimulai. Tenri kudu berpisah berasal dari mereka, disatu segi ada perasaan berat gara-gara kudu berpisah, tapi disisi lain, dia pasti idamkan konsisten mengejar mimpinya selama ini.

Kisah Keteguhan Cinta dan Cita-cita berasal dari Talumae

Diantara mereka, cuma Tenri dan Daud lah yang menikmati bangku kuliah, kala Wawan kudu merantau ke Gorontalo dengan sang kakak, apalagi sebelum saat dia lulus SMA. Sedangkan Irdad dan Asdar pilih bekerja bertani sambil berdagang buah Rambutan milik Haji Haeruddin, pedagang kaya di dusun mereka. Asdar sangat menyenangi berdagang, gara-gara sebenarnya dia membawa mimpi jadi pedagang sukses.

Seminggu sebelum saat keberangkantan Tenri ke Makassar, dusun mereka kedatangan mahasiswa salah satu kampus negeri berasal dari Makassar yang dapat melaksanankan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sesekali mereka menunjang kegiatan mahasiswa tersebut. Peserta KKN terhitung Asdar kenalkan terhadap Nenek Resse, mereka takjub dapat impuls dan cerita berasal dari Nenek Resse.

Rencana keberangkatan Tenri ke Makassar, memicu sedih Asdar, sedih bukan gara-gara dapat berpisah dengan teman akrab yang selama ini bersamanya, tapi lebih berasal dari itu, Asdar menaruh perasaan terhadap Tenri, kendati dia belum berani mengungkapkannya. Ditengah kegundahannya ini, Asdar kerap berharap nasehat terhadap Nenek Resse, nasehat bijak Nenek Resse selalu mampu memicu Asdar lebih tenang. Dari Nenek Resse pula Asdar, Tenri, Daud, dan Irdan tergerak hatinya untuk memicu janji, jadi apa pun mereka nantinya dapat ulang ke dusun dan berbuat sekecil apa pun itu (hal 104).

Sepeninggalan Tenri dan Daud kuliah ke Makassar, Asdar mengalami kebingungan pada merantau untuk mencari pelajaran hidup atau selalu didusun. Akhirnya ia putuskan merantau ke Balikpapan, bekerja terhadap Haji Sulaiman, teman akrab berasal dari Haji Haeruddin. Dalam perjalanan Asdar konsisten mengikis kerinduan dapat keluarga, kampung halaman, Nenek Resse, dan sahabat-sahabatnya, cuma buku pemberian Tenri terhadap malam perpisahan dengannya yang selalu menemi Asdar. Perjuangan ini kudu ia lakukan demi raih mampi dan langsung mempersunting pujaan hatinya, Tenri, serta berbuat untuk dusun yang dicintainya.

Sesampainya di Balikpapan, Asdar bekerja di Kebun Karet, Asdar tergolong pekerja yang gigih dan jenius, tak jarang dia mendapat pujian berasal dari kawan kerjanya, berkat kegigihannya inilah iakemudian ditugaskan untuk mengelola usaha mebel milik Haji Sulaiman. Dari sinilah kebangkitan Asdar, selain mebel yang dia kelola berkembang pesat, dia terhitung membuka usaha toko sembako dan cafe, cocok mimpinya, jadi pengusaha.

Limatahun berselang Asdar ulang menginjakkan kaki dikampung halamannya, tapi bukan untuk libur lebaran, dia pulang untuk menghadiri undangan pernikahan Tenri, Sahabat sekaligus pujaan hatinya selama ini. Sehari sebelum saat pernikahan Tenri, Asdar pergi ka makam Nenek Resse, sebenarnya sejak pernah ia selalu mencurahkan segala kegundahan terhadap Nenek Resse, diatas makam inilah Asdar berdoa dan konsisten meratap dapat perasaan yang ia simpan selama ini terhadap Tenri, tanpa disadari secara sejalan Tenri terhitung mengunjungi makam tersebut.

Kajadian ini mengungkap bahwa, yang selalu diungkapkan Asdar terhadap Nenek Resse adalah Tenri, begitujuga sebaliknya, Tenri terhitung mengungkap perihal mirip terhadap Nenek Resse. Namun, nasi telah jadi bubur, Tenri telah jadi tulang rusuk Laki-laki lain (hal 263).

Sesuai janji Asdar dan sahabat-sahabatnya terhadap Nenek Resse, mereka jadi berbuat untuk dusunnya, jadi berasal dari mendirikan kedai minuman jahe, tokoh sembako berlantai dua, hingga membangun jembatan dusun. Mereka berlima akhirnya ulang kekampung dan berbuat sedikit untuk kebaikan dusun yang selama ini telah membesarkannya.

Membaca buku Kaki Langit Talumae tidak cuma kuras konsentrasi didalam memecah padanan narasi dan diksi, tutur apik penulis mampu membawa emosi pembaca bergalayut didalam setiap penggalan kisahdidalamnya. Nilai-nilai kearifan lokal suku bugis, cinta, dan perjuangan mampu merangsek jauh terhadap imajinasi pembaca, lebih jauh buku ini terhitung jadi guru terhadap setiap pembaca yang haus dapat nasehat hidup.