Pembentukan Wawasan Kewirausahaan Pemuda untuk Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional

Pembentukan Wawasan Kewirausahaan Pemuda untuk Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional

Pembentukan Wawasan Kewirausahaan Pemuda untuk Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional
Pembentukan Wawasan Kewirausahaan Pemuda untuk Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Nasional

Globalisasi telah membuka peluang kepada berbagai bangsa di dunia untuk memperoleh manfaat dari keunggulan dalam berkreasi dan daya saing dalam produk serta layanan. Pengembangan keunggulan dan daya saing tersebut dapat diupayakan melalui proses pembelajaran dalam pembentukan karakter sebagai bangsa yang kreatif dan patriotis. Proses pembelajaran tersebut dapat dilakukan di sekolah dan luar sekolah dengan mengembangkan kurikulum kewirausahaan yang berorientasi kepada proses pengkayaan (enrichment). Kurikulum kewirausahaan dengan pengkayaan tentang wawasan bisnis dan aplikasi yang menggabungkan antara konsep dasar dan teori serta metodologi dengan praktik bisnis. Kelemahan dalam pembelajaran kewirausahaan antara lain tidak didukung pemagangan manajamen usaha sebagai calon wirausaha dan praktik bisnis sebagai wirausaha muda.


Wawasan Kebangsaan dan Karakter Bangsa

Wawasan (vision) adalah kehendak (wish) dan harapan (hope) sebagai sasaran yang ingin dicapai (expected objective) dalam jangka tertentu (time frame) dan mampu diwujudkan (realized) melalui kerjasama dan kemitraan (cooperation and partnership) dengan membentuk gagasan bersama (common platform). Wawasan itu dapat dicapai melalui serangkaian upaya (tied mission) melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) dengan mengembangkan sinergitas dalam kegiatan (synergic action) yang terarah (planned), terpadu (integrated), terkendali (monitored) dan berkesinambungan (sustainable).

Wawasan sebagai kebutuhan bersama (common need) adalah landasan gerak perubahan (movement of changes) bagi setiap individu dalam berfikir dan bertindak untuk mewujudkan kehendaknya dan harapan bersama. Proses perubahan berlangsung melalui kelembagaan dimana ia mengembangkan kapasitasnya mulai dari instusi keluarga sampai kepada institusi negara. Oleh sebab itu setiap insitusi mengatur tentang hak dan kewajiban (right and obligation) setiap individu sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya seterusnya disepakati melalui mekanisme kontrak sosial (social contract). Konsekuensi dari komitment ini ialah keharusan terlibat aktif dalam pengembangan kelembagaan bagi peningkatan kesejahteraan.

Wawasan kebangsaan adalah kehendak dari para pendiri negara dan harapan dari generasi penerusnya tentang hakikat kemerdekaan dan kedaulatan yang harus diupayakan melalui pembangunan secara bertahap. Wawasan diwujudkan melalui keterlibatan setiap individu dan kelembagaan sesuai rencana pembangunan nasional. Hak dan kewajiban sebagai warga negara telah ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang dibentuk melalui mekanisme pengkajian. Esensinya tentang kebutuhan dan kepentingan pada masa kini dan nanti dalam kerangka mewujudkan keadilan dan kemakmuran secara simultan. Wawasan kebangsaan mengarahkan setiap warga negara untuk bersikap dan berperilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai yang terkandung dalam ideologi dan konstitusi sesuai dengan budaya bangsa.


Wawasan kebangsaan mengandung nilai-nilai moral dan etika, persatuan dan kesatuan, karakter dan kepemimpinan, kemanusiaan dan pemberdayaan, budaya kreatif dan produktif, heroisme dan patriotisme, kesadaran dan kepedulian tentang lingkungan kehidupannya. Keseluruhan nilai dalam wawasan kebangsaan mengandung tiga konsep dasar tentang identitas, integritas dan kapabilitas sebagai prasyarat bagi membangun bangsa yang bermartabat dan negara yang kuat. Identitas tergambar dalam nilai moral dan etika serta persatuan serta semangat persatuan dan kesatuan sedangkan integritas tergambar dalam nilai-nilai kemanusiaan dan pemberdayaan serta herosime dan patriotisme. Kapabilitas tergambar dalam nilai-nilai budaya kreatif dan produktif serta kesadaran dan kepedulian tentang lingkungan kehidupannya untuk keberlanjutan pembangunan.

Karakter bangsa ialah pengejawantahan dari keseluruhan nilai dalam wawasan kebangsaan yang melandasi sikap dan perilaku sehingga membentuk identitas atau jatidiri sebagai nilai dasar kepribadian setiap warga negara. Karakter bangsa dinyatakan dalam Undang-undang nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025. Nilai dasar kepribadian bangsa tersebut adalah bermoral Pancasila, berakhlak mulia, tangguh, kompetitif yang dicirikan dengan watak dan perilaku sebagai manusia dan masyarakat yang beragama, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, patriotik, dinamis dan berorientasi iptek.

Konsekuensi dari penetapan tersebut adalah kesadaran dan kemauan untuk membentuk identitas dan integritas serta mengembangkan kapasitas sebagai warga negara yang berkarakter baik. Artinya perlu dorongan dari diri sendiri untuk berubah secara konsisten dan konsekuen serta mengajak orang lain untuk berubah melalui peningkatan kharisma sebagai pribadi yang berakhlak mulia. Sasarannya adalah terbangun komunitas dan masyarakat yang berkarakter baik sebagai wujud kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Proses tersebut berlangsung dari orangtua kepada anaknya dan pemimpin kepada bawahan sehingga terbangun kesadaran bersama untuk menjadi semakin baik dari waktu ke waktu.


Karakter Bangsa dan Kewirausahaan Pemuda

Karakter bangsa sebagai perwujudan dari nilai luhur wawasan kebangsaan dibentuk melalui proses pembelajaran secara inklusif dan berkelanjutan dimulai dari institusi keluarga dan sekolah sampai kepada komunitas dan masyarakat. Proses tersebut melibatkan keseluruhan warga negara dengan falsafah saling asah, saling asih, saling asuh sehingga terbangun suatu kesadaran tentang hakikat berbangsa dan bernegara. Konsepsi tentang pembelajaran sepanjang hayat (life long education) adalah dasar bagi pembentukan karakter bangsa karena nilai-nilai luhur tersebut harus wujud sepanjang hayat sebab menjadi identitas atau jatidiri bangsa. Konsekuensi dari kesadaran tersebut maka perlu peraturan dan perundangan-undangan yang disertai penegakan hukum melalui lembaga peradilan yang bebas dari berbagai intervensi. Selain itu dukungan masyarakat untuk membentuk rasa bangga sebagai bangsa yang bermartabat sebaliknya rasa malu sebagai bangsa yang kurang beradab dalam rangka mewujudkan bangsa yang sejahtera dalam negeri yang makmur.

Proses pembelajaran tersebut melibatkan kanak-kanak dan remaja serta pemuda dalam usia sekolah antara 5-30 tahun melalui proses pencerahan (enlightment) tentang hakikat hidup dan kehidupan. Pencerahan itu menyangkut hak dan kewajiban sebagai individu dan anggota masyarakat serta warga negara. Pencerahan diupayakan melalui pengajaran tentang konsep dan teori serta metodologi seterusnya praktik sosial untuk mengaplikasikannya melalui pola keterlibatkan (involvement) dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Mekanisme tentang keterlibatan ini menjadikan setiap individu akan dihargai karena diakui keberadaan dan karyanya dalam kerangka pemberdayaan (empowerment). Pembangunan sosial yang memberdayakan dalam konsepsi gotong royong melibatkan peran sosial dan fungsi ekonomi yaitu individu memberi sumbangan berupa tenaga, uang, material, makanan dan pemikiran sesuai kemampuannya dalam membangun lingkungan kehidupan yang lebih baik.

Kesadaran tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara dikembangkan dengan konsep kemandirian sehingga meningkat rasa cinta tanah air melalui pembelajaran kewirausahaan. Ada beberapa nilai dasar dalam mata ajar kewirausahaan yang diturunkan dari nilai kewiraan tentang heroisme dan patriotisme serta keusahaan tentang ketangguhan dan daya saing sebagai bangsa yang berbudaya maju dan bermartabat. Heroisme yang menandai kemauan untuk mencapai yang terbaik (hero) dengan semangat juang yang tinggi (patriotic) menandai keunggulan (competency) dan persaingan (competitiveness) dalam era global. Budaya maju ditandai dengan kesungguhan dan dinamis serta berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi (scientific) untuk membangun bangsa yang bermartabat yaitu berbudi luhur dan bertoleran karena dilandasi oleh moral Pancasila sebagai insan yang berakhlak mulia.


Sumber : https://www.gurupendidikan.co.id/