Aturan Gakin Bikin Pelajar Solo Tergusur

Aturan Gakin Bikin Pelajar Solo Tergusur

Aturan Gakin Bikin Pelajar Solo Tergusur
Aturan Gakin Bikin Pelajar Solo Tergusur

Sejumlah orang tua siswa mendatangi Balai Pengendalian Pendidikan Menengah

dan Khusus (BP2MK) Wilayah III Surakarta, Kamis (5/7). Para orang tua siswa tersebut memprotes adanya Permendikbud nomor 17 tahun 2017 pasal 16 ayat 1 yang mengatur mengenai kuota siswa keluarga miskin (Gakin) minimal 20 persen.

Pasalnya akibat peraturan tersebut, anak-anak mereka yang memiliki nilai bagus terancam tidak bisa sekolah di dalam Kota Solo.

Salah satu orang tua siswa, Arius Tri Wibowo, mengatakan bahwa akibat aturan tersebut, anaknya dipastikan tidak dapat sekolah di sekolah negeri di Solo. Hal ini lantaran posisinya tergusur oleh siswa Gakin yang masuk ke sekolah tersebut.

“Anak saya nilai rata-rata 7,5 tapi kalah dengan anak Gakin

dengan nilai rata-rata 4. Dan sekarang anak saya sudah tidak bisa lagi mendaftar di SMA Negeri sesuai zonanya di Solo,” ungkapnya saat ditemui JawaPos.com usai melapor ke BP2MK, Kamis (5/7).

Arius sangat menyayangkan adanya aturan yang menurutnya tidak fair ini. Arius tidak mempermasalahkan jika pemerintah akan memberikan bantuan kepada Gakin, tetapi berkaitan dengan prestasi menurutnya tidak bisa dikesampingkan.

Dengan adanya peraturan tersebut, otomatis anak-anak berprestasi yang seharusnya bisa sekolah di sekolah yang sesuai harus rela memilih sekolah lain karena sudah tidak ada tempat.

“Seharusnya yang fair dan tidak memihak siapa pun. Gakin diberi bantuan silakan. Tetapi jangan diberi kuota yang bukan haknya. Orang dengan kualitas berpikir hebat menjadi tidak masuk. Dan sekarang anak saya tidak bisa masuk,” kesal Arius.

Dirinya pun bingung untuk mendaftarkan putranya, Aksel

. Hal ini karena pilihan yang tersedia adalah di luar Solo.

Protes juga disampaikan oleh orang tua siswa lainnya, Antok. Dirinya pun khawatir anaknya tidak bisa masuk SMA sesuai dengan zonasinya. “Kemarin mendaftar di SMA N 5 sesuai dengan zonasinya, tapi sekarang sudah tergeser lagi di SMAN 2. Tidak tahu besok seperti apa,” katanya.

Sementara itu, salah satu staf di BP2MK, Agus Pratomo mengaku, dirinya hanya bisa sebatas menampung setiap protes yang masuk. Selanjutnya, laporan tersebut akan disampaikannya kepada pimpinannya.

“Kalau kami di sini tidak berwenang untuk mengambil tindakan, tapi hanya petugas saja. Yang sudah lapor memang banyak hari ini sudah lebih dari 13 orang,” terangnya.

 

Sumber :

https://rohitink.com/2019/06/14/need-know-periodic-table-elements/