Universitas Terbuka Sasar 10.000 Mahasiswa di Luar Negeri

Universitas Terbuka Sasar 10.000 Mahasiswa di Luar Negeri

Universitas Terbuka Sasar 10.000 Mahasiswa di Luar Negeri
Universitas Terbuka Sasar 10.000 Mahasiswa di Luar Negeri

Universitas terbuka (UT) akan memperbanyak jumlah mahasiswanya di luar negeri

hingga 10.000 pada dua tahun ke depan. Pelaksanaan perkuliahan dilakukan dengan metode online learning. UT menyasar warga negara Indonesia (WNI) dan pekerja migran Indonesia (PMI) yang tersebar di berbagai negara agar mereka mendapat akses ke pendidikan.

Pembantu Rektor Bidang Akademik Universitas Terbuka Mohamad Yunus mengatakan bahwa saat ini jumlah mahasiswanya yang belajar dari luar negeri baru mencapai 2.300 orang. Mahasiswa UT di luar negeri adalah WNI serta pekerja formal Indonesia yang ingin meningkatkan kompetensi dan kualifikasi mereka.

“Kami berharap dalam dua tahun ke depan jumlah mahasiswa kami di luar negeri bisa 10.000 orang. Kami akan membuka pusat layanan bagi jaringan kampus UT di negara lain (hub) supaya pendekatan ke komunitas Indonesia di luar negeri bisa lebih intensif,” kata Mohamad Yunus dalam Sarasehan UT dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Jakarta kemarin.

Baca Juga:

Menginspirasi Anak Muda dalam Pendidikan

Mendikbud Minta Pemenang OSN Bersiap Ikuti Olimpiade Internasional

Rencananya hub di Den Haag akan diresmikan April nanti, sedangkan layanan unit pembelajaran jarak jauh di Timor Leste diresmikan Mei mendatang. Mohamad mengatakan, hub di Den Haag ialah untuk memperluas jangkauan mahasiswa di Eropa seperti calon mahasiswa di Belgia, Inggris, Jerman, dan Swiss.

Sementara layanan unit pembelajaran jarak jauh di Timor Leste, UT akan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Timor Leste dan KBRI di Dili.Dia menjelaskan, salah satu kendala yang menyebabkan masih rendahnya jumlah mahasiswa UT di luar negeri ialah sulitnya mengikuti ujian. Namun, saat ini UT telah menemukan pola ujian daring yang disebut online proctoring exam.

“Ujian tanpa pengawasan orang sehingga ujian bisa di mana saja. Tapi dia akan dipindai dulu retina, situasi rumah dan sebagainya. Kalau dia melakukan banyak hal yang dikategorikan dicurigai ya sudah (dapat nilai) E,” katanya.

UT juga telah menggunakan teknologi informasi dalam layanan pendidikan

yang lebih canggih, di antaranya meliputi fasilitas registrasi daring, bahan ajar digital, tutorial berbasis daring,dan webinar serta ujian daringbagi mahasiswa di luar negeri.

Mohamad menuturkan, mahasiswa UT paling banyak berada di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Arab Saudi, dan Qatar. Mereka rata-rata adalah pekerja formal, seperti di Qatar yang bekerja di ladang minyak yang mau meningkatkan statusnya menjadi sarjana S-1.

Dia menjelaskan, dengan semakin dikenalnya UT oleh masyarakat Indonesia di luar negeri, minat untuk menjadi mahasiswa UT akan semakin besar. Hal ini juga sejalan dengan keinginan pemerintah yang ingin meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi yang saat ini masih 32,5 %. “Mereka bisa mendaftar di KBRI yang biasanya ada atase yang ditunjuk untuk membantu layanan dan kedua mereka bisa registrasi daring,” katanya.

 

Baca Juga :