Pengolahan Sumber Daya Alam

Table of Contents

Pengolahan Sumber Daya Alam

ahabat kali ini Situs Pelajaran Oke bakal mengulas artikel bersama dengan judul Pengolahan Sumber Daya Alam. Sumber energi alam ada bersama dengan beragam wujud dan persebaran. Ada yang dapat diperbarui, sebaliknya ada pula yang tidak dapat diperbarui. Ada termasuk wilayah yang kaya bakal sumber energi alam, sebaliknya ada wilayah yang miskin sumber daya. Semuanya itu seolah membentuk keseimbangan yang harusnya di jaga. Wilayah yang melimpah bakal sumber energi alam spesifik dapat memenuhi keperluan di wilayah yang kekurangan. Sumber energi yang tidak dapat diperbarui diusahakan keseimbangannya bersama dengan pengelolaan berbasis prinsip ekoefisiensi dan keberlanjutan. Begitu pula bersama dengan sumber energi alam yang lainnya. Pada hakikatnya kelestarian sumber energi alam dapat dicapai bersama dengan pemanfaatan yang ekoefisien, mengelolanya bersama dengan pedoman berkesinambungan dan berwawasan lingkungan.

Berikut ini adalah cara yang dapat diterapkan guna menuju pemanfaatan sumber energi alam yang berkesinambungan dan berwawasan lingkungan.

A. Prinsip Ekoefisiensi
Kehidupan manusia secara individu, lebih-lebih sampai tingkat pembangunan di suatu daerah atau yang lebih tinggi, di tingkat negara misalnya, nyaris senantiasa didasarkan pada pemanfaatan sumber energi alam. Pasti dapat anda bayangkan berapa banyak orang memanfaatkan sumber energi alam. Sayangnya, apa yang dibutuhkan oleh orang-orang tidak dapat seluruh terpenuhi. Wilayah bersama dengan sumber energi alam melimpah dapat saja terpenuhi kebutuhannya. Namun, apa bermakna kalau lambat laut kekayaan selanjutnya habis.

Dalam prinsip ekoefisiensi, pemanfaatan sumber energi alam berdasarkan pemilihan peruntukannya jadi amat penting. Pemilihan peruntukan selanjutnya dilaksanakan atas dasar:

1. efisiensi dan efektivitas pemanfaatan yang optimal dalam batas-batas kelestarian sumber alam yang mungkin,
2. tidak mengurangi kebolehan dan kelestarian sumber alam lain yang berkenaan dalam suatu ekosistem, dan
3. memberikan bisa saja untuk mempunyai pilihan pemanfaatan di jaman depan, sehingga perombakan ekosistem tidak dilaksanakan secara dratis.

B.Mengelola Sumber Daya Alam bersama dengan Prinsip Ekoefisiensi
Kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumber energi alam mempunyai pengaruh pergantian ekosistem dalam beragam tingkat. Dampak selanjutnya dapat berakibat dalam suatu ekosistem saja. Akan namun kerap saling terkait. Oleh sebab itu, dalam pengelolaan satu sumber energi alam di suatu ekosistem mesti dipikirkan pengaruh yang ditimbulkannya pada ekosistem lain. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan hutan yang keliru bakal memberikan masalah pada ekosistem lain, seperti flora dan fauna yang ada di dalamnya, lebih-lebih ekosistem di tingkat manusia termasuk terganggu. Hal seperti inilah yang mesti dihindari dalam pengelolaan sumber energi alam bersama dengan prinsip ekoefisiensi.

1. Mengelola Sumber Daya Air
Kegiatan manusia seperti pemanfaatan sumber energi air, mau tidak mau mempunyai pengaruh bagi lingkungan. Pencemaran lingkungan ditimbulkannya, baik yang dikeluarkan dalam wujud air buangan tempat tinggal tangga maupun dalam wujud limbah industri. Dampak yang berat diperoleh dari kasus ini mendorong perlunya pengendalian air buangan untuk mengurangi pencemaran. Untuk kesibukan dalam skala besar, industri misalnya, pengendalian pengaruh pada lingkungan dilaksanakan bersama dengan amdal.

2. Mengelola Sumber Daya Perikanan
Seperti kami ketahui bahwa laut merupakan penghasil ikan utama. Penangkapan ikan umumnya dilaksanakan oleh nelayan tradisional maupun nelayan yang memanfaatkan peralatan modern. Nelayan tradisional ini memadai memanfaatkan peralatan sederhana meskipun terkadang mengalami lebih dari satu kendala. Antara lain tetap tergantung pada angin sebab perahu-perahunya amat sederhana, wilayah penangkapan ikan yang terbatas tidak dapat ke sedang atau mendekati lokasi-lokasi upwelling. Kendala ini berlangsung sebab nelayan kekurangan modal. Akibatnya, ikan yang ditangkap amat terbatas dan kerap jadi busuk jika terlambat kembali ke darat. Oleh sebab itu, pemerintah mesti memberikan perhatian pada pengembangan usaha perikanan oleh nelayan. Yang jadi persoalan adalah penangkapan ikan yang memanfaatkan pukat harimau dan termasuk bom. Penangkapan yang demikianlah merupakan umpama pengelolaan yang tidak berwawasan lingkungan.

Penggunaan pukat harimau tak hanya berkenaan ikan-ikan besar, ikan-ikan kecil pun ikut terjaring. Jika ikan-ikan kecil ikut ditangkap, bakal memutus daur reproduksi lebih dari satu spesies ikan. Akhirnya, dapat menyebabkan lebih dari satu spesies ikan spesifik punah. Begitu termasuk bersama dengan pemanfaatan bom, yang bakal mematikan makhluk hidup di dalam laut dan termasuk mengakibatkan kerusakan terumbu karang. Terumbu karang merupakan anggota dari kehidupan laut yang paling produktif dan kaya keanekaragaman hayatinya. Sebab, terumbu karang merupakan daerah berlindung, daerah untuk melacak makan bagi makhluk hidup di laut, daerah berkembang biak, daerah asuh dan juga daerah penyamaran beragam tipe biota laut dari mangsanya seperti udang, kepiting, tiram, dan cumi-cumi. Bayangkan kalau terumbu karang rusak dan punah. Kita bakal kehilangan sumber-sumber perikanan laut. Padahal kekayaan perikanan laut merupakan kekayaan yang amat potensial di wilayah Indonesia.

3. Menggunakan dan Mengelola Sumber Daya
Pertambangan Hasil tambang termasuk kelompok sumber energi yang tidak dapat diperbarui. Konsekuensinya, kalau suatu hari sumber energi ini habis, kami tidak kembali dapat menikmatinya. Oleh sebab itu, tindakan yang tepat sejak sekarang mesti kami terapkan sehingga keperluan senantiasa terpenuhi. Kita tidak boleh ulangilah kesalahan yang sama, pada waktu dekade th. 1970-an. Pada waktu itu naiknya harga minyak secara penting ( oil booming ) menyebabkan Indonesia seperti mendapat durian runtuh. Keuntungan yang berlipat ganda dari hasil penjualan minyak sudah mengantarkan Indonesia sebagai keliru satu kandidat ’Macan Asia’, bersama dengan bersama dengan Thailand dan Malaysia. Namun, kejayaan Indonesia dari hasil minyak bumi kini tampaknya sudah jadi kenangan. Sumur-sumur minyak makin lama mengering, sebab ekstraksi (pengeboran) tidak dibarengi bersama dengan eksplorasi dan penghematan sumber energi alam ini.

Penghematan mesti dilaksanakan pengelolaan pertambangan bersama dengan arif. Langkah yang dapat diambil, yaitu bersama dengan lakukan langkah pertambangan berwawasan lingkungan sampai bersama dengan proses pengelolaannya sambil terus melacak sumber energi pengganti.

Langkah-langkah yang mesti disita dalam mengelola / pemanfaatan tambang bersama dengan prinsip kelestarian;

a. Penghematan dalam pemanfaatan bersama dengan senantiasa mengingat generasi penerus.
b. Melakukan ekspor tambang bukan sebagai bahan mentah, namun sudah jadi bahan baku ataupun barang jadi.
c. Mengadakan penyelidikan dan penelitian untuk menemukan wilayah pertambangan yang baru.
d. Apabila dimungkinkan diusahakan bahan pengganti. Misalnya pemanfaatan bahan bakar minyak diganti bersama dengan tenaga surya, gas, maupun alkohol.

4. Mengelola Sumber Daya Lahan
Di atas lahan hidup beragam macam makhluk hidup, di atas lahan pula makhluk hidup lakukan aktivitasnya. Makhluk hidup di wajah Bumi ini senantiasa berkembang jumlahnya, namun tidak bersama dengan lahan. Akibatnya, pemanfaatan pada sumber energi lahan bakal berlangsung secara kontinu. Sudah saatnya pemanfaatan lahan untuk suatu pemanfaatan spesifik mesti perhitungkan kriteria pemanfaatan lahan dan tingkat kebolehan lahan dan juga tingkat kesesuaian lahan.

a. Persyaratan Penggunaan Lahan
Persyaratan pemanfaatan lahan ini digunakan sebagai pedoman untuk menerapkan suatu wujud pemanfaatan lahan di suatu kawasan. Persyaratan diterapkan bersama dengan menilai karakteristik lahan.
1) Penggunaan Lahan untuk Kawasan Lindung
Lahan yang digunakan sebagai kawasan lindung mempunyai karakteristik kemiringan lereng amat curam, yaitu >45%, tanah atau lahan amat sensitif pada erosi, curah hujan harian amat tinggi, dan kawasan lindung dapat berupa jalan pengaman aliran sungai dan hutan lindung.
2) Penggunaan Lahan untuk Kawasan Penyangga
Kawasan bersama dengan karakteristik lahan seperti selanjutnya ini merupakan kawasan yang mesti dijadikan kawasan penyangga, yaitu kemiringan lahan pada 25–45% atau curam, lahan sensitif pada erosi, curah hujan harian amat tinggi, dan memungkinkan dimanfaatkan untuk bercocok tanam yang bernilai ekonomis dan mudah dikembangkan untuk kawasan penyangga lingkungan alam.
3) Penggunaan Lahan untuk Kawasan Budi Daya Tanaman
Tahunan Lahan yang dapat digunakan sebagai kawasan budi energi tanaman tahunan mempunyai karakteristik kemiringan lahan agak curam, yaitu 15–25%, lahan agak sensitif pada erosi, curah hujan harian sedang, dan lahan untuk budi energi tanaman tahunan dapat berupa perkebunan, hutan tanaman industri (HTI) dan tanaman kayu-kayuan dan juga memenuhi kriteria untuk kawasan penyangga.
4) Penggunaan Lahan untuk Kawasan Budi Daya Tanaman
Semusim Lahan yang dapat digunakan sebagai kawasan budi energi tanaman semusim mempunyai karakteristik kemiringan lahan landai, yaitu 8–15%, lahan agak sensitif pada erosi, curah hujan rendah, dan memenuhi kriteria untuk kawasan budi energi tahunan.
5) Penggunaan Lahan untuk Kawasan Permukiman
Lahan yang cocok untuk kawasan permukiman mempunyai kriteria cocok untuk kawasan budi energi tanaman semusim atau tahunan bersama dengan kemiringan lereng 0–8% atau datar.

b. Pemanfaatan Lahan Sesuai Kemampuan Lahan dan Kesesuaian Lahan
Pemanfaatan lahan yang didasarkan pada kebolehan lahan dan kesesuaian dilaksanakan khususnya dahulu bersama dengan lakukan evaluasi lahan. Evaluasi lahan merupakan proses penilaian tampilan atau keragaan ( performance ) lahan untuk obyek tertentu, meliputi pelaksanaan interpretasi, survei, dan studi wujud lahan, tanah, vegetasi, iklim, dan juga segi lahan lainnya, sehingga dapat mengidentifikasi dan menyebabkan perbandingan beragam pemanfaatan lahan yang merasa dikembangkan (FAO, 1976). Evaluasi lahan dilaksanakan dari beragam segi lahan dan mutu fisik, biologi, dan juga teknologi pemanfaatan lahan bersama dengan obyek sosial ekonomi. Oleh sebab adanya kaitan bersama dengan parameter sosial ekonomi, maka dapat diterapkan dua pendekatan evaluasi lahan, yaitu evaluasi secara kualitatif dan evaluasi kuantitatif.

Evaluasi kuantitatif dibutuhkan pada survei kelayakan sesudah dilaksanakan survei kualitatif khususnya dahulu. Sedangkan evaluasi kualitatif merupakan evaluasi yang dilaksanakan bersama dengan cara mengelompokkan lahan ke dalam lebih dari satu kategori berdasarkan perbandingan relatif mutu lahan tanpa lakukan perhitungan secara terinci dan tepat biaya. Kelompok atau klasifikasi yang digunakan dalam evaluasi lahan dapat berupa klasifikasi berdasarkan kesesuaian lahan maupun kebolehan lahan.
1) Kesesuaian Lahan
Klasifikasi kesesuaian lahan adalah penilaian dan pengelompokan lahan dalam makna kesesuaian relatif lahan atau kesesuaian absolut lahan bagi suatu pemanfaatan lahan tertentu. Klasifikasi kesesuaian lahan berupa spesifik untuk suatu tanaman atau pemanfaatan lahan tertentu, jika kesesuaian lahan untuk tanaman semusim, kesesuaian lahan untuk tanaman teh, jati, cokelat, kesesuaian lahan untuk industri, irigasi, permukiman, dan sebagainya.
2) Kemampuan Lahan
Klasifikasi kebolehan lahan adalah penilaian lahan (komponen-komponen lahan) secara sistematik dan pengelompokannya ke dalam lebih dari satu kategori berdasarkan sifat-sifat yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaannya secara lestari.

5. Mengelola Sumber Daya Kehutanan
Kekayaan hutan di Indonesia kian hari kian menipis. Tuntutan keperluan mendorong manusia lakukan penebangan hutan. Contohnya kami ambil kasus yang pada waktu ini jadi prioritas yang mesti diselesaikan oleh pemerintah, yaitu illegal logging. Penebangan hutan di Indonesia pada waktu ini meningkat tajam. Sebenarnya penebangan hutan senantiasa dapat dilaksanakan asalkan memenuhi prinsip ekoefisiensi. Tebang pilih dilaksanakan bersama dengan perhitungkan umur pohon, ukuran diameter, dan tinggi batang. Pembibitan baik dilaksanakan sebelum saat penebangan, baru sesudah penebangan dilaksanakan penanaman bibit atau reboisasi. Reboisasi dilaksanakan untuk memelihara keseimbangan ekosistem. Jika selama ini kami lebih banyak mengekspor kayu-kayu gelondongan, ada baiknya kalau kami memproduksi kayu-kayu selanjutnya jadi barang yang mempunyai nilai tambah, seperti kerajinan mebel atau industri berbahan baku kayu lainnya. Satu hal kembali berkenaan hutan yang terkadang luput dari perhatian kita. Selain penebangan hutan, kebakaran termasuk jadi penyebab kerusakan hutan. Seperti kebakaran hutan yang kerap melanda Indonesia diakui merupakan bencana besar bagi lingkungan dan ekonomi. Sekitar 10 juta hektar hutan, semak belukar dan padang rumput terbakar, lebih dari satu besar dibakar bersama dengan sengaja. Gumpalan asap yang pedas meliputi wilayah Sumatra dan Kalimantan, termasuk Singapura dan lebih dari satu dari Malaysia dan Thailand. Sekitar 75 juta orang terkena masalah kebugaran yang disebabkan oleh asap. Bahkan lantas lintas hawa lumpuh karenanya. Sampai waktu ini kebakaran ini tetap kerap terjadi, lebih-lebih perihal ini menyebabkan Indonesia diakui jadi keliru satu pencemar lingkungan terburuk di dunia. Apabila diamati dari citra satelit dan information ‘hot-spot’ kebakaran perlihatkan lautan api di awali di daerah perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit dan pulp, yang biasa memanfaatkan api untuk bersihkan lahan. Namun demikian, tak hanya sebab segi kesibukan manusia, kebakaran ini dapat termasuk berlangsung secara alami.

Kebakaran dapat berlangsung sebab segi manusia ataupun secara alami, jika sbb;
a. Pembersihan Lahan
Api sampai sekarang diakui alat yang murah dan efektif untuk bersihkan lahan dan diminati oleh kalangan pebisnis untuk dapat menanam tanaman industri seperti karet dan kelapa sawit. Bukti nyata dapat anda cermati bersama dengan berkurangnya luas hutan jadi areal perkebunan. Misalnya, perkebunan kelapa sawit yang meningkat dari 120.000 hektare di th. 1989 jadi nyaris 3 juta hektar di th. 1999.

b. Kebakaran Tanpa Kesengajaan
Kebakaran yang tak disengaja akibat api yang berkobar liar sebab suhu yang tinggi dan sisa pembersihan lahan disinyalir termasuk jadi penyebab terjadinya kebakaran hutan.

c. Api sebagai Senjata
Pembakaran jadi segi mutlak di pedesaan Indonesia akhir – akhir ini. Para petani dan penduduk lokal yang merasa diperlakukan tidak adil bersama dengan hilangnya tanah mereka yang ’diambil’ oleh perusahaan-perusahaan perkebunan, memanfaatkan api sebagai senjata untuk mengklaim kembali lahan mereka dan menghancurkan hasil milik perusahaan.

d. Pembukaan Jalan Baru
Penduduk kira-kira hutan kerap kali menyalakan api untuk bersihkan semak belukar dalam rangka mengakses jalan baru atau melakukan perbaikan jalan masuk yang sudah ada untuk memanen sumber daya. Sebagai contoh, di daerah Danau Sentarum Kalimantan Barat banyak kebakaran yang berlangsung di th. 1990-an disebabkan oleh nelayan yang membakar semak untuk menembus hutan ke wilayah hutan rawa yang dihuni ikan arwana yang mempunyai nilai ekonomi dan estetika tinggi.

e. Hutan Bernilai Ekonomi Tinggi
Nilai ekonomi hutan yang tinggi bertentangan bersama dengan kesejahteraan hutan, seperti energi tariknya menyebabkan banyak yang menginginkan memanen kayu hutan, mengubah hutan memproduksi jadi perkebunan, akibatnya mendorong peningkatan laju pembersihan hutan alam.

f. Pengelolaan Sumber Daya Kehutanan yang Buruk
Sisa-sisa kayu sesudah pembalakan yang dibiarkan berserakan di lantai hutan jadi bahan bakar yang dapat mengobarkan api membakar hutan. Rawa-rawa yang jadi kering menciptakan lingkungan yang lebih rentan pada kebakaran.

g. Pembukaan hutan jadi wilayah transmigrasi
Api lazim digunakan oleh transmigran maupun oleh aparat yang berwenang dalam mengakses lahan hutan dan menjadikannya kawasan permukiman dan lahan pertanian baru. Jika menyaksikan kenyataan segi penyebab terjadinya kebakaran hutan, penyebab yang paling mengkhawatirkan adalah ulah manusia. Kita kerap merasa menginginkan memperoleh sebanyak-banyaknya tanpa perhitungkan akibat yang bakal ditimbulkannya. Guna hindari hal ini, tiap-tiap kesibukan pemanfaatan sumber energi alam mesti dilaksanakan perencanaan yang matang, tak hanya hasil yang bakal dicapai termasuk akibat yang bakal ditimbulkannya. Sehingga melalui perencanaan yang baik diinginkan tidak bakal mengakibatkan kerusakan lingkungan, lebih-lebih mendukung dan memelihara mutu lingkungan.

6. Mengelola Limbah
Meski limbah tidak tergolong sumber energi alam, namun limbah dapat dihasilkan dari pemanfaatan sumber energi alam. Pengelolaan limbah ini bertujuan sehingga tiap anggota dari sumber energi alam dapat dimanfaatkan meski itu berupa limbah.

Memedulikan limbah apa yang dihasilkan dari kesibukan pemanfaatan sumber energi alam jadi satu indikasi tindakan arif mengelola sumber daya. Pemerintah sudah mengambil alih kebijakan bersama dengan keputusan pengolahan limbah pabrik khususnya dahulu. Dengan keputusan ini, tiap-tiap industri yang membuahkan limbah, diwajibkan memproduksi limbah jadi limbah yang netral dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Pengolahan limbah ini dilaksanakan pada bak penampungan limbah sementara. Selain pengolahan limbah, usaha-usaha untuk mengatasi air limbah termasuk mesti dilakukan, usaha-usaha tersebut, pada lain pilih wilayah industri jauh dari permukiman penduduk dan menahan daur limbah berhubungan langsung bersama dengan sumber air minum penduduk.

jika sumber energi alam kami memanfaatkan merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbarui, hal ini dapat kami lakukan bersama dengan lakukan penghematan dalam pemanfaatan bahan yang tidak dapat diperbarui. Misalnya, kalau pada waktu ini anda senantiasa memanfaatkan kendaraan bermotor untuk bepergian meskipun jaraknya dekat. Mulai sekarang memanfaatkan saja sepeda kalau anda bepergian ke tempat-tempat yang dekat. Selain menghemat pemanfaatan bahan bakar, tubuhmu termasuk jadi sehat sebab bersepeda.

Dalam prinsip ekoefisiensi, limbah sekecil apa pun yang kerap kami membuang sehari-hari mesti dipertimbangkan. Seperti sampah. Beberapa macam sampah dapat kami daur kembali sehingga mempunyai energi guna. Sampah-sampah yang berasal dari organik dapat diproses jadi pupuk organik. Sampah-sampah kering seperti plastik, kertas, besi, dan sebagainya dapat didaur kembali jadi produk-produk dalam wujud lain. Semua wujud pengelolaan sampah dapat dilaksanakan bersama dengan mudah, kalau pada waktu membuangnya kami sudah menengahi jenis-jenis sampah selanjutnya termasuk sampah basah atau sampah kering.

Di Indonesia ada dua proses pengelolaan sampah, yaitu proses pengelolaan formal dan informal. Pengelolaan formal dilaksanakan oleh aparat pemerintah, yaitu Dinas Kebersihan. Pengelolaan ini meliputi pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan sampai ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sedangkan pengelolaan informal dilaksanakan oleh penduduk yang berperan sebagai pengumpul sampah. Sebenarnya, dalam pengelolaan sumber energi alam secara berkesinambungan dan berprinsip ekoefisiensi, mesti ada sinergi dari lebih dari satu pihak baik antarmasyarakat dan pemerintah. Sehingga ada kerja sama dari beragam lapisan masyarakat, pada lain bersama dengan penyatuan persepsi bahwa pelestarian lingkungan (sumber energi alam) adalah amat penting, bersama memanfaatkan sumber energi secara efektif dan aman bagi lingkungan, saling mendukung program pengembangan pengelolaan sumber energi alam sehingga mempunyai nilai lebih, dan juga bersama menegakkan dan lakukan peraturan-peraturan konservasi keanekaragaman hayati.

C. Pembangunan Berkelanjutan dan Cirinya
Pembangunan berkesinambungan adalah pembangunan atau pertumbuhan yang mempunyai tujuan memenuhi keperluan jaman sekarang tanpa membahayakan kebolehan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.

Konsep pembangunan ini merasa dikampanyekan semenjak berlangsung kegagalan pembangunan, di mana proses yang berlangsung hanya satu arah (dari ke atas ke bawah) dan tidak berlangsung keberlanjutan. Tantangan yang dihadapi pembangunan berkesinambungan menemukan cara guna menaikkan kesejahterakan bersama dengan pemanfaatan sumber energi alam secara bijak. Sehingga diinginkan sumber energi alam yang dapat diperbarui terlindungi dan pemanfaatan sumber energi yang tidak dapat diperbarui senantiasa dapat memenuhi keperluan generasi yang bakal datang. Pelaksanaan pembangunan berkesinambungan sudah diperkuat oleh kesepakatan para pemimpin bangsa, pada lain dalam Deklarasi Rio pada KTT Bumi th. 1992, Deklarasi Millenium PBB th. 2000, dan Deklarasi Johannesburg pada KTT Bumi th. 2002.

Secara lazim kriteria pembangunan berkesinambungan mengacu pada empat segi lazim pembangunan, yaitu segi sosial, ekonomi, lingkungan, dan teknologi. Beberapa kriteria dan indikator pembangunan berkesinambungan dihasilkan dalam sebuah kerja sama pada negara-negara selatan dan negara utara. Semua segi selanjutnya tercermin dalam indikator pembangunan berkesinambungan sebagai berikut.
1. Memberikan kontribusi pada keberlanjutan lingkungan lokal.
2. Dukungan dalam penerapan keberlanjutan pemanfaatan sumber energi alam.
3. Mendorong peningkatan lapangan kerja.
4. Kontribusi pada keberlanjutan neraca pembayaran.
5. Kontribusi pada keberlanjutan ekonomi makro.
6. Adanya efektivitas biaya.
7. Kontribusi pada kemandirian.

D. Mengelola Sumber Daya Alam Berwawasan Lingkungan

Pernah diungkapkan Prof. Dr. Emil Salim dalam sebuah artikel Ekonomi dalam Lingkungan, bahwa ekonomi dan ingkungan merupakan elemen yang saling komplementer. Ketika pertimbangan ekonomi dipisahkan bersama dengan pertimbangan lingkungan, maka Bumi bakal mengalami kerusakan.

Sebenarnya rencana seperti ini sudah merasa dimunculkan dalam konferensi PBB berkenaan lingkungan hidup di Stockholm th. 1972, yaitu membangun ekonomi bersama dengan pertimbangan lingkungan sama sekali bukan menghilangkan duwit ataupun bakal mengurangi keuntungan. Inilah rencana pembangunan berwawasan lingkungan, yaitu pembangunan yang perhitungkan lingkungan sebagai anggota dari proses pengambilan kebijakan pembangunan.

Menurut Undang-Undang No. 23/1997 berkenaan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pembangunan berkesinambungan yang berwawasan lingkungan hidup adalah usaha paham dan terencana yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber energi ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan juga mutu hidup generasi jaman kini dan generasi jaman depan.

Dari lebih dari satu kasus lingkungan, bencana misalnya, berlangsung sebab melalaikan lingkungan. Tengoklah bencana banjir di Jakarta yang berlangsung sebab kelalaian pada lingkungan. Banyak kawasan hijau dikonversi jadi beragam layanan hiburan. Sebut saja Ancol yang menggusur hutan bakau, proyek pantai Indah Kapuk yang menyulap hutan bakau dan rawa jadi perumahan, daerah rekreasi, dan lapangan golf. Bukan kesejahteraan ekonomi yang didapat namun bencana banjir yang berlangsung sebab berkurangnya wilayah resapan air.

Baca Juga :