BATA Bidik Pertumbuhan 30% di Lini Produk Sepatu

BATA Bidik Pertumbuhan 30% di Lini Produk Sepatu

BATA Bidik Pertumbuhan 30% di Lini Produk Sepatu
BATA Bidik Pertumbuhan 30% di Lini Produk Sepatu

PT Sepatu Bata Tbk (BATA)

membidik pertumbuhan bisnis sebesar 30% dari lini produk utama sepatu perempuan. Di mana hal ini sesuai dengan tren bisnis mereka yang kuat di sisi fashion dan lifestyle pasar perempuan.

BATA sendiri tumbuh positif pada kuartal pertama 2017. Di mana penjualan Bata pada kuartal pertama 2017 menembus angka Rp200 miliar, naik tipis dari Rp198,3 miliar pada tahun lalu.

Sementara laba kotor tembus Rp88,7 miliar dari sebelumnya Rp81,03 miliar

di periode serupa tahun lalu. Adapun laba bersih kini melonjak 4 kali lipat dibanding periode serupa tahun lalu menjadi Rp 2,3 miliar.

Laporan BATA
“Prestasi tersebut tentunya mencerminkan kerja keras

dan kemauan untuk memberikan sepatu terbaik untuk Pasar Indonesia. Apalagi, penjualannya sangat diharapkan tumbuh seiring dengan perayaan Lebaran, periode anak back to school dan natal di akhir tahun,” ujar Senior Commerce Manager PT Sepatu Bata Tbk, Budiharta Hanse.

Dia mengungkapkan sebesar 20-30% penjualan perusahaan dalam setahun disumbangkan pada periode tersebut. Karena itu perusahaan terus menambah koleksinya dengan signifikan di kedua periode tersebut.

Budi memaparkan strategi BATA untuk tumbuh dengan berfokus pada segmen anak-anak, anak muda, dan perempuan. Sejumlah inovasi pun diluncurkan, antara lain dengan merombak konsep gerainya yang lebih terkesan minimalis namun modern.

“Upaya ini untuk lebih mengutamakan fokus konsumen kepada produk yang dipajang. Strategi lainnya dengan mereposisi merek dari sepatu murah menjadi sepatu berkualitas dengan harga terjangkau,” jelsanya.

Perusahaan terus menyegarkan jajaran mereknya, seperti North Star, Marie Clarie, Weinbrenner Naturalizer, dan Power.

Bata pun turut menata ulang jalur distribusi fisiknya. Caranya dengan menambah gerai baru sekaligus menutup yang kurang potensial. Melalui kebijakan ini sejumlah toko ditutup karena tidak maksimal.

Penutupan tersebut berdampak positif pada kinerja keuangan BATA. “Ada efisiensi beban biaya produksi dan penjualan sebesar 5% di kuartal I 2017, atau menjadi Rp111 miliar. Total sampai akhir kuartal I 2017 Bata memiliki 520 gerai di Indonesia,” tandasnya.

Baca Juga :