Rumah Mentawai, Lebih dari Sekadar Wirausaha Sosial

Rumah Mentawai, Lebih dari Sekadar Wirausaha Sosial

Rumah Mentawai, Lebih dari Sekadar Wirausaha Sosial
Rumah Mentawai, Lebih dari Sekadar Wirausaha Sosial

Kepulauan Mentawai bisa disebut sebagai salah satu harta Indonesia karena memiliki keindahan alam

yang amat memukau. Kepulauan ini pun menjadi incaran banyak turis terutama peselancar karena mempunyai ombak besar sepanjang tahun.

Sayangnya, Kepulauan Mentawai masih jauh dari kata sejahtera. Pembangunan infrastruktur di wilayah itu tergolong lambat dan ketersediaan listrik belum merata. Kebutuhan pokok seperti beras masih harus didatangkan dari Kota Padang dengan harga yang cukup tinggi karena lahan sawah untuk menanam padi masih terbatas.

Berkaca dari permasalahan yang dialami Kepulauan Mentawai, mahasiswa Unika Atma Jaya dan Binus University mencetuskan sebuah program wirausaha sosial bernama Rumah Mentawai. Rumah Mentawai merupakan sebuah agen perjalanan (travel agent) berbasis situs untuk menawarkan keindahan alam sekaligus memberdayakan masyarakat Kepulauan Mentawai.

Fransiska Myrna, salah satu mahasiswa Unika Atma Jaya yang mengembangkan Rumah Mentawai,

menjelaskan bahwa idenya datang setelah ia tinggal selama sebulan di Kepulauan Mentawai untuk menyelesaikan kegiatan pengabdian masyarakat.

“Selama sebulan aku dan teman-teman tinggal di Mentawai, kami menyadari kalau pembangunan dan perekonomian di sana masih tertinggal. Misalnya, listrik yang belum tersedia dua puluh empat jam dan masih sulitnya akses darat. Padahal, menurut kami Kepulauan Mentawai berpotensi untuk dikembangkan karena alamnya yang indah dan kebudayaannya yang unik,” jelas Myrna dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com, Senin (12/8/2019).

Program Rumah Mentawai juga mengadopsi sila kelima Pancasila, yaitu untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat Kepulauan Mentawai. Diharapkan, wirausaha sosial ini diharapkan tidak hanya mendatangkan keuntungan secara bisnis tetapi juga dapat membantu mengurangi permasalahan sosial di Indonesia.

Dengan Rumah Mentawai, turis dapat menikmati keindahan dan mengenal kebudayaan di sana yang akan diperkenalkan langsung oleh masyarakat lokal. Misalnya, turis akan tinggal di rumah penduduk setempat dan disuguhi makanan lokal khas Mentawai. Selain itu, masyarakat Kepulauan Mentawai akan diberdayakan untuk mengajarkan sejarah dan budaya Kepulauan Mentawai.

Myrna tidak sendirian mengembangkan program ini. Rumah Mentawai ia kembangkan bersama Gabrielle Lourdes

dari Unika Atma Jaya serta Maulvi Zehra dan Stanislaus Seanbert dari Binus University pada kompetisi Social Entrepreneurship Hackathon. Mereka merupakan salah satu tim yang mendapatkan hibah untuk menjalankan programnya.

Social Entrepreneurship Hackathon merupakan kompetisi yang menantang mahasiswa untuk berinovasi menciptakan wirausaha sekaligus dapat memberikan dampak positif terhadap sosial dan lingkungan. Acara ini merupakan kerja sama antara Unika Atma Jaya dan Binus University yang didukung oleh Goethe-Institute Jakarta.

 

Sumber :

https://www.emailmeform.com/builder/form/5V74fpaeKI7