Sampah Plastik Ancam Kehidupan Makhluk Hidup

Sampah Plastik Ancam Kehidupan Makhluk Hidup

Sampah Plastik Ancam Kehidupan Makhluk Hidup
Sampah Plastik Ancam Kehidupan Makhluk Hidup

Sampah plastik merupakan salah satu sumber pencemaran lingkungan hidup yang dihadapi

oleh masyarakat Indonesia maupun dunia. Penggunaan sampah plastik yang tidak ramah lingkungan serta digunakan secara berlebihan, akan mengakibatkan masalah lingkungan hidup yang serius. Diantaranya seperti banjir, kerusakan ekosistem, sampai pada pengancam kehidupan makhluk hidup.

Dilansir dari Nationalgeographic.co.id, volunteer Yayasan Wakatobi, Laude M. Saleh Hanan, bersama dengan WWF dan Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan Wakatobi menemukan Paus Sperma (P. Macrocephalus) yang sudah menjadi bangkai. Paus tersebut ditemukan di perairan Desa Kapota, Kecamatan Wangi Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Kemudian tim melakukan pemeriksaan terhadap paus dengan panjang 9,5 meter tersebut.

Sebanyak 5,9 kg sampah plastik telah ditemukan dalam organ paus sperma tersebut. Berbagai sampah seperti kantong plastik, botol plastik, tutup galon, sandal, hingga terpal ditemukan di dalamnya. Sebagian besar, sampah yang ditemukan telah berubah warna. Hal tersebut menandakan sampah-sampah sudah berada di dalam tubuh paus dan mengendap dalam waktu yang lama.

Direktur Pengelolaan Sampah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar, mengatakan persoalan terbesar saat ini berkaitan dengan lingungan hidup adalah sampah plastik. Penggunaan plastik oleh masyaraat dapat membahayakan kesehatan dalam bentuk mikroplastik.

“Sampah plastik kalau masuk ke laut baru bisa terurai puluhan bahkan ratusan tahun.

Dampaknya yang mengancam ekosistem bisa dilihat dari film dan foto yang ada,” papar Novrizal, Senin, 19 November 2018.

Jaga bumi dari plastik

Sebelumnya juga didapat ikan pari besar yang terpaksa berenang di tengah sampah plastik. Hal tersebut ditemui di salah satu tempat populer pada kalangan wisatawan, yaitu Manta Bay, Bali. Keadaan tersebut ditangkap oleh penyelam scuba yang menunjukkan bagaimana ikan pari besar berusaha menemukan jalan keluar. Kepungan sampah yang dilalui diantaranya seperti pembalut wanita, popok, plastik pembungkus, serta alat makan plastik sekali pakai.

Ahli Lingkungan dari Australia, sekaligus asisten peneliti dari Marine Megafaua Foundation, Brooke Pyke, mengatakan ia menyelam di Manta Bay hampir setiap hari. Kondisi tersebut dirasa sangat berbahaya karena membuat ikan tidak mampu membedakan mangsanya di antara sampah.

“Di laut yang sama terdapat zooplankton yang menjadi makanan pari. Ia sedang mencari makanannya ketika terjebak di lautan plastik,” ujar Brooke.

National Geographic Indonesia mengajak masyarakat semua untuk senantiasa menjaga Bumi dari permasalahan sampah plastik yang disebabkan manusia sendiri. Oleh karena itu, mereka selalu mengkampanyekan dengan bertanya, “Bumi atau plastik?”. Dan mengajak semua untuk lantang berteriak “Saya pilih Bumi!”***

 

Baca Juga :