World Toilet Day

World Toilet Day

World Toilet Day
World Toilet Day

Setiap 19 November merupakan Hari Toilet Sedunia atau World Toilet Day.

Pada 2001, World Toilet Organizationpertama kali membentuk program tersebut guna memberikan motivasi dan menggerakan penduduk dunia mengenai pentingnya sanitasi. Hal tersebut bertujuan untuk membangkitkan kesadaran penduduk global mengenai isu sanitasi. Sejak saat itu, peringatan tersebut telah tumbuh dan diakui oleh partner dunia. Pada tahun 2013, PBB menandatangani penetapan Hari Toilet Sedunia menjadi hari internasional.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Ahmad Hadadi menyebutkan perlunya menggerakan program sanitasi di lingkungan sekolah. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) harus ditanamkan sejak dini bagi para siswa, sehingga terhindar dari berbagai penyakit dan lingkungan tetap terjaga. Diantaranya adalah budaya cuci tangan, gosok gigi, dan menjaga lingkungan yang sehat dan bersih.

“Kami berupaya setiap sekolah mempunyai sanitasi seperti air bersih, toilet, dan lingkungan sekolah yang sehat dan bersih. Termasuk untuk para siswanya yang memiliki perilaku bersih dan sehat,” ujar Hadadi saat ditemui seusai apel pagi, di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jalan Dr. Radjiman, Kota Bandung, Senin, 19 November 2018.

Dilansir dari laman wordtoiletday.info menjelaskan pentingnya membangun toilet

dan sistem sanitasi yang selaras dengan lingkungan. Ketika alam memanggil, kita harus mendengarkan dan bertindak. Saat ini sebanyak 4,5 miliar orang, hidup tanpa sanitasi yang dikelola dengan aman dan 892 juta orang, masih mempraktikkan buang air besar sembarangan.

Dampak dari paparan fases manusia berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, kondisi kehidupan, gizi, pendidikan dan produktivitas ekonomi di seluruh dunia. Penyebaran penyakit, seperti diare, schistosomiasis, dan malagizi saat ini sangat rawan terjadi pada anak-anak.  Terkait dengan suatu keadaan yaitu enteropati lingkungan, merupakan akibat langsung dari buang air besar di tempat terbuka.

Pada 2017, di Jawa Barat sebanyak 3.260.296 dari 11.770.022 keluarga atau 27,7%

buang air besar sembarangan. Selain itu, sebanyak 64,4% keluarga tidak memiliki akses sanitasi yang layak. Dari data tersebut, Kabupaten Karawang menempati peringkat teratas sebagai daerah yang 18,3% rumah tangga tidak memiliki toilet. Sedangkan, Kabupaten Tasikmalaya yang 68,64% rumah tangga tidak memiliki akses sanitasi yang layak.

Solusi untuk sanitasi dan krisis air yaitu dengan memanfaatkan kekuatan ekosistem, seperti menangani dan membuat kompos dari tinja, sehingga dapat membantu pertumbuhan tanaman. Selain itu, lahan basah buatan manusia dan alang-alang akan menyaring air limbah sebelum dilepas kembali ke jalur air.

Sanitasi yang layak, tidak hanya persoalan telah memiliki fasilitas buang air besar sendiri atau bersama, dan kloset leher angsa. Tapi juga berkaitan dengan pembuangan akhir tinja. Sepanjang dibuang ke sungai, sawah, atau danau, hal tersebut menjadi kelompok sanitasi yang tidak layak.***

 

Sumber :

https://nashatakram.net/fardu-rukun-shalat/