Menjadi Merdeka Dengan Membaca

Menjadi Merdeka Dengan Membaca

Menjadi Merdeka Dengan Membaca
Menjadi Merdeka Dengan Membaca

Tanpa membaca, rasanya mustahil Indonesia bisa merdeka seperti saat ini. Para pejuang, para perintis yang menyiapkan fondasi kebangsaan kita. Para founding father (perintis negara) adalah para kutu buku: orang-orang intelek yang sangat gemar membaca. Para perintis kemerdekaan Indonesia adalah orang-orang dengan pikiran yang terbuka, yang matanya memandang jauh ke ujung cakrawala, yang isi kepalanya penuh dengan ide-ide besar yang datang dari berbagai penjuru dunia. Melalui bahan bacaan pula, mereka menyadari bahwa kolonialisme tak dapat diterima oleh kemanusiaan, sehingga perlawanan kepada penjajahan adalah keharusan bagi mereka yang tercerahkan.

Indonesia memang hampir bebas dari persoalan tuna aksara yang sudah menyusut drastis hingga tersisa hanya sekitar 5-6% saja. Kendati demikian, meningkatnya angka melek huruf tidak serta merta meningkatkan minat baca. Menurut data dari The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), budaya membaca masyarakat Indonesia berada di peringkat terendah di antara 52 negara di Asia.

UNESCO melaporkan pada 2012 kemampuan membaca anak-anak Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku, sedangkan Indonesia mencapai titik terendah: 0 persen! Tepatnya 0,001 persen. Artinya, dari 1000 anak Indonesia, hanya satu anak yang mampu menghabiskan satu buku dalam setahun.

Ini persoalan penting, ini perkara genting. Soal minat baca memang terlihat tidak semendesak persoalan energi atau pangan. Tapi bagaimana menyiapkan masa depan negeri ini jika tingkat literasi begitu rendah?

Membaca, sains dan matematika sudah terbukti adalah salah satu kunci sukses bagi negara-negara maju atau yang berkembang dengan pesat baik dalam soal perekonomian atau pendidikan. Seperti mungkin telah kita ketahui bersama, bahwa negara-negara dengan penduduk yang minat baca, sains dan matematikanya tinggi sudah bisa dipastikan menjadi negara-negara maju atau negara yang berkembang dengan sangat baik.

Kalau kita mau maju, ingin berkembang, mau menjadi teladan kebaikan, yang kelak nama kita Allah catat dalam tinta emas sebagai salah satu pengubah peradaban dunia melalui gerbang membaca. Maka tidak ada cara lain kecuali kita harus bertekad menjadi manusia Pembaca sepanjang waktu, tempat dan keadaan.

Namun, apbila kita memang ingin menjadi pecundang dalam peradaban dunia. Menjadi manusia terkapar dalam kemajuan orang-orang lain, terkekang dalam kejumudan dan kebodohan diri, menjadi terjajah oleh pemikiran warga lain, atau bahkan lebih rendah dari itu: hanya menjadi sama seperti makhluk-makhluk lainnya yang hanya bisa makan, minum dan melampiaskan nafsunya, tanpa mau membaca. Ya sudah! Memang itulah kita, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita kerjakan. Kelak kita pun akan menikmati kemunduran. Menikmati hasil menyakitkan dari kemalasan di dunia. Dan di akhirat, apalagi tak ada hujah di hadapan-Nya, perkataan tidak tahu karena dulunya tidak mau membaca.

Semoga kita menjadi manusia-manusia pembaca, pengamal Iqra dan penggerak peradaban dunia dengan analisis kita, hasil dari bacaan kita, tulisan hasil dari bacaan kita, dan pembicaraan berkualitas juga hasil dari bacaan kita.

Kita tidak bisa diam. Saatnya berbarengan bergerak. Bukan besok, lusa, apalagi tahun depan. Tapi sekarang. Sebab mencintai membaca berarti pula mencintai ilmu pengetahuan, adalah mencintai agama, mencintai bumi dan alam semesta, yang adalah tugas besar bersama manusia sebagai khalifah. Sekarang! Mulailah membaca!

Sumber : https://filehippo.co.id/