Tingkatkan Potensi Siswa Melalui Ekskul

Tingkatkan Potensi Siswa Melalui Ekskul

Tingkatkan Potensi Siswa Melalui Ekskul
Tingkatkan Potensi Siswa Melalui Ekskul

Analisis potensi siswa yang sangat beragam, akan menentukan keberhasilan

pada peningkatan mutu pendidikan. Hal ini seperti yang diterapkan oleh SMPN 18 Bandung yang mempriorataskan ekstrakurikuler (ekskul) sebagai pengembangan potensi siswa. Capaian prestasi di bidang ekskul dapat mengharumkan sekolahnya.

Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 18 melalui bidang Humas Toharudin Satibi mengatakan, salah satunya prestasi yang diraih adalah pernah menjuarai tingkat pertama perlombaan pramuka nasional. Dari tahun 2016 dan 2017. Bahkan, banyak lulusannya masuk ke SMA ternama di Kota Bandung masuk melalui jalur prestasi salah satunya melalui pramuka.

Selain itu, prestasi lainnya adalah kegiatan dibidang akademik, tahun lalu pernah menjadi juara d

ua Olimpiade IPS tingkat nasional yang diraih oleh Hanifa.

’’ Sekarang siswanya sudah melanjutkan ke pendidikan tingkat menengah kejuruan di kota Bandung,’’jelas Toharudin ketika ditemui kemarin.(28/8).

Dia memaprkan, di SMPN 18 Sekolahnya memiliki lebih dari tujuh ekskul. Namun, yang banyak diminati siswa adalah olahraga, pramuka dan paskibra.

Pembinaan ekskul dari sekolahnya dilakukan seminggu sekali. Intensitas latihan ekskul akan meningkat jika menghadapi perlombaan-perlombaan.

Kendati begitu, untuk urusan bidan akademik menjadi prioritas utama. Sehingga, dengan pengembangan ekskul ini diharapkan akan mendorong untuk berprestasi dibidang akademik dengan melatih kemandirian dan kedisiplinan seperti yang dipraktekan dalam pramuka.

“Sebetulnya ada, untuk pengembangan akademik. Namun kita melihat potensi siswa yang ada.

Mayoritas potensinya ada di ekskul. Ya kita prioritaskan itu” tutur Toharudin.

Sementara dalam pendalaman karakter, SMPN 18 memiliki program rutin literasi yang dilaksanakan setiap hari. Tepatnya 15 menit sebelum proses KBM dilaksanakan. Kemudian program Jumroh (Jumat rohani) diisi dengan kegiatan salat Dhuha berjamaah dilanjutkan dengan pengajian lalu ditutup dengan ceramah bagi umat muslim.

“Bagi siswa- siswi non muslim kami berikan kebebasan. Mau ikut program rohani atau tidak itu bebas. Kalau mau ikutan paling duduk dibelakang,” tambah Toharudin.

 

Sumber :

https://egriechen.info/