Malioboro, pro-kontra relokasi

Malioboro, pro-kontra relokasi

Malioboro, pro-kontra relokasi
Malioboro, pro-kontra relokasi

Kontroversi tentang relokasai pedagang kaki lima kawasan Malioboro memang banyak mengundang berbagai tanggapan. Masing-masing tanggapan juga mempunya posisi yang kuat.
Relokasi para pedagang kaki lima Malioboro menjadi krontroversi diantara berbagai pihak. Ada pikak yang mendukung relokasi atau pro relokasi, ada juga pihak yang menolak relokasi atau kontra relokasi. Kedua pihak tersebut memang mempunyai kedudukan yang kuat, dan masing-masing mempunyai dasar yang tidak dapat terbantahkan.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang bagaimana alasan tersebut tidak dapat terbatahkan. Dan makalah iniakan menjelaskan alasan-alasandara kedua arguman tersebut. Nilai positif dan negatif dari kontroversi yang juga menjadi persoalan dalam kontroversi relokasi tersebut juga akan diulas.
Harapan dari pembuatan makalah ini adalah menjadikan maeyarakat tahu dan peduli akan kawasan Malioboro, dan tidak hanya berat sebelah dalam menentukan alasan atau argumen baik yang mendukung ataupun menolak relokasi ini. Dan kepedulian masyarakat Jogjakarta sendiri itulah yang akan membuat kawasan Malioboro menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Jogjakarta, Desember 2006
Penulis
PENDAHULUAN

“Jangan meninggalkan Jogja sebelum menginjakkan kaki di Malioboro’’. Sebuah pesan singkat yang sering terlontar untuk mereka ketika akan berwisata ke Jogja. Bahkan tak ayal lagi titik kota ini mampu mempertemukan semua orang dari segala penjuru.
Malioboro hanyalah sebuah nama jalan yang posisinya seakan menjadi sumbu antara keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dengan gunung Merapi di sebelah utara. Namun Malioboro dapat mempertemukan semua orang dari segala lapisan sosial, dan kelas ekonomi.
Semua diperlakukan sama dengan sapaan yang ramah, khas Jogja. Ribuan pedagang kakilima berjajar teratur di sepajang koridor pertokoan. Menjajakan aneka dagangan mulai dari busana, aksesoris hingga pernak-pernik khas Jogja dan interior. Meski tergolong kelompok usaha mikro, namun merekalah yang membuat urat nadi Malioboro berdenyut.
Yang membuat istimewa dari kawasan Malioboro dengan kawasan lain yang sejenis dengan Malioboro memang banyak. Malioboro adalah kawasan yang memiliki deretan pertokoan-pertokoan dan vendor terpanjang di dunia. Dan memiliki deretan pedagang kaki lima terpanjang di dunia. Kawasan ini juga merupakan kawasan yang paling pesat pertumbuhan ekonominya, sehingga kawasan ini sudah menjadi tumpuan hidup bagi sebagian warga kota Jogjakarta. Selain itu dari segi historiografi kawasan ini banyak mengandung sejarah perekonomian warga Jogjakarta.
Namun dari segala kemasyuran Malioboro, terdapat satu cermin lain yang menggambarkan nama Malioboro menjadi kurang diterima oleh masyarakat Jogja. Sebagai titik temu dari segala pejuru, tentu muncul juga sisi negatif yang diberikan oleh Malioboro. Premanisme, kriminalisme, dan masalah terbesar yaitu masalah kebersihan lingkungan kota. Jogja. Masalah-masalah seperti inilah yang sudah sering didengar bahkan dirasakan oleh pengunjung Malioboro, khususnya penduduk Jogja sebagai tuan rumah.
Kebersihan kawasan ini selalu menjadi topik yang sering diperhatikan oleh para pejabat kota khususnya di dalam dinas kebersihan dan penataan kota. Hal ini menjadi penting mengingat Jogjakarta adalah kota pariwisata. Selain itu citra kota Jogjakarta yaitu “Jogja Berhati Nyaman” dimana filosofi bersih dan nyaman digunakan dalam kalimat tersebut.
Masalah kebersihan lingkungan fisik kawasan tersebut selalu dihubungkan dengan keberadaan para pedagang kaki lima. Beberapa masyarakat ataupun wisatawan Malioboro menyatakan bahwa para pedagang kaki lima itulah yang menjadikan kawasan Malioboro menjadi lingkungan kumuh dan merusak citra kota Jogjakarta sebagai kota pariwisata.
Banyak usulan baik dari para wisatawan dan dinas pemerintahan setempat yang berinisiatif agar para pedagang kaki lima dapat direlokasi dan ditata dengan rapi. Mereka mengiginkan kawasan Malioboro ini mejadi bersih dan nyaman untuk dikunjungi sehingga banyak wiatawan yang berkunjung ke Malioboro. Akhirnya bayak pihak yang dapat diuntungkan dengan relokasi ini dan perekonomian kota Jogjakarta akan meningkat karena Malioboro.
Akan tetapi ada juga sebagian pihak yang tidak setuju dengan relokasi para pedagang kaki lima di kawasan Maliobora ini. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang kaki lima itu sendiri yang merasa akan dirugikan dengan relokasi tersebut. Lainnya adalah para tokoh masyarakat yang menyatakan peduli dengan karakter asli Malioboro, mereka menganggap degan direlokasikannya para pedagang kaki lima Malioboro akan menghancurkan karakter Malioboro dan ciri khas Malioboro yang berbeda dengan kawasan sejenis Malioboro baik di dalam ataupun diluar negeri.

Baca Juga :