Penularan dan Penyebaran

Table of Contents

Penularan dan Penyebaran

Penularan dan Penyebaran
Penularan dan Penyebaran

Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Kuman ini kemudian dikeluarkan bersama kotoran, dan infeksi akan terjadi bila orang mendekatinya. Penularan diduga terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan. Orang yang terserang flu burung menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa, antara lain demam, sakit tenggorokan dan batuk, tapi kondisinya sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, korban bisa meninggal. Seperti halnya influensa, flu burung ini sangat mudah bermutasi. Flu burung (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi. Bahkan dapat menyebar antar peternakan dari suatu daerah ke daerah lain. Penyakit ini dapat juga menyerang manusia, lewat udara atau air yang tercemar virus itu. Orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung (H5N1) ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas.

Secara umum, gejala klinis serangan virus itu adalah gejala seperti flu pada umumnya, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, ber-ingus, nyeri otot, sakit kepala, lemas, dan dalam waktu singkat dapat menjadi lebih berat dengan terjadinya peradangan di paru-paru (pneumonia), dan apabila tidak dilakukan tatalaksana dengan baik dapat menyebabkan kematian. Tatalaksana tersebut merupakan tindakan pencegahan dan keamanan pangan asal unggas.

Unggas yang sakit (oleh Influensa A H5N1) dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius. Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama, tapi mati pada pemanasan 60° derajad celcius selama 30 menit. Virus ini sendiri mempunyai masa inkubasi selama 1–3 hari.

Virus ini selain dapat menular dari udara dan air yang terkontaminasi oleh eksudat atau feses dapat juga menular dari makanan. Sebagai contoh, ada penelitian yang menunjukkan bahwa kucing menjadi terkena infeksi ketika memakan ayam yang terinfeksi avian influensa. Dokumentasi lebih lanjut juga menunjukkan bahwa harimau mungkin telah terinfeksi dengan cara yang serupa karena diberi makan bangkai ayam yang segar dari suatu rumah jagal. Berdasarkan pada Laporan ini, kucing (bangsa kucing) sepertinya secara relatif peka terhadap strain H5N1 dan mungkin telah terkena infeksi setelah mengkonsumsi bangkai dari ayam terinfeksi. Hal itu dapat membuktikan bahwa virus ini dapat ada di bahan pakan asal unggas kira – kira empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius. Tahan terhadap pH rendah (<4.0).

Sumber : https://balikpapanstore.id/