Catatan Akhir 2018: Pinjaman Online, Solusi atau Ancaman?

Catatan Akhir 2018: Pinjaman Online, Solusi atau Ancaman?

Catatan Akhir 2018 Pinjaman Online, Solusi atau Ancaman
Catatan Akhir 2018 Pinjaman Online, Solusi atau Ancaman

Tahun ini industri financial technology (Fintech) cukup menunjukan gairahnya

. Keberadaan fintech diuntungkan dengan perilaku masyarakat yang semakin gemar melakukan transaksi secara digital.

Seperti dirangkum Selular, yang didapat berbagai sumber disebutkan, tren bertransaksi di jalur digital di perbankan naik hingga 35 persen. Padahal, tiga tahun lalu, 75 persen bankir memperkirakan lebih dari separuh transaksi dilakukan di kantor cabang. Kini angkanya turun menjadi 34 persen.

Tidak hanya itu, Asosiasi Fintech Indonesia mencatat lonjakan

pertumbuhan dari 6% sepanjang 2011-2012, menjadi 9% di 2013- 2014, kemudian melambung menjadi 78% antara tahun 2015-2016. Angka ini pun diprediksi terus bertambah sejalan dengan masih besarnya potensi pasar Indonesia.

Salah satu dimensi inklusi keuangan adalah akses masyarakat untuk mendapatkan pinjaman dana. Fintech juga memfasilitasi penyedia dana (lender) dengan pihak yang membutuhkan dana (borrower) melalui pasar digital.

Di tengah kondisi perbankan yang tidak mampu menjangkau, fintech hadir

dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan. Fintech peer to peer (P2P) lending memangkas waktu dan keribetan dalam pengajuan dan pencairan pinjaman. Calon nasabah tidak perlu datang ke kantor untuk mengajukan kredit, hanya cukup melalui akses online.

Seluruh pendaftaran, proses pengecekan hingga pencairan pinjaman bisa dilakukan secara cepat, tanpa agunan, bahkan tanpa perlu tatap muka.
Namun resikonya, calon peminjam harus membayar bunga yang sangat tinggi, bahkan jika terlambat mencicil maka bunganya ada yang mencapai belasan atau puluhan persen per bulan.

 

Sumber :

https://works.bepress.com/m-lukito/6/