Tindakan pengawetan tanah pada budidaya tanaman

Tindakan pengawetan tanah pada budidaya tanaman

Tindakan pengawetan tanah pada budidaya tanaman

didasarkan pada kelas kemiringan lahan yang ada. dibagi ke dalam 4 kelas yaitu :

1. Tanah datar (0-3%) 

Tidak diperlukan pembuatan benteng, rorak, maupun teras. Umumnya yang dibutuhkan yaitu drainase untuk menampung dan mengalirkan air yang berlebihan.

2. Tanah bergelombang (4-10%) 
Pada daerah dengan kemiringan 4-10% mulai nampak adanya erosi alur. Ini terjadi karena air tekonsentrasi dan mengalir pada tempat-tempat tertentu sehingga diperlukan pembuatan benteng dan rorak.

3. Tanah berbukit (11-100%) 
Pada areal bukit diperlukan pembuatan teras bersambung.

4. Tanah curam (>100%) 
Pada tanah curam dengan kemiringan > 100% tidak dianjurkan untuk usaha perkebunan karet. Untuk pengusahaan tanaman karet, kemiringan lahan sampai 47%.

Teras bersambung dibuat berdasarkan derajat kemiringan lahan dan jarak antar kontur diambil dari rata-rata kemiringan lahan. Makin tinggi kemiringannya maka jarak antar kontur semakin jauh. Lebar teras sekitar 2 m dengan permukaan teras miring kedalam ke arah lereng dengan sudut kemiringan 10o. Pembuatan teras dapat dilakukan secara manual atau dengan mekanis menggunakan traktor rantai D6. Pembuatan teras sebaiknya dimulai dari tempat yang tinggi (puncak bukit). Bagian dalam dari tiap titik penanaman dalam teras dibuat rorak (lubang sedalam 1.5-2m) untuk menampung kelebihan air ketika hujan turun.


Sumber: https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/seva-mobil-bekas/