Tsunami, anatomi dan kapan itu terjadi

Tsunami, anatomi dan kapan itu terjadi

Tsunami, anatomi dan kapan itu terjadi

Indonesia, yang dikelilingi sesar atau patahan lapisan bumi, membuat wilayahnya selalu “dihakimi” sebagai daerah rawan bencana. Dan, dari bencana-bencana yang terjadi, selain volkanologi, gempa dan tsunami meninggalkan bekas duka mendalam karena kedahsyatannya.

Terakhir dan masih menjadi perbincangan hangat sekarang adalah gempa Donggala

, yang sesaat kemudian menimbulkan gelombang tsunami di Palu. Gempa bumi tektonik dengan kekuatan goncangan 7,4 skala Richter (7,5 magnitudo menurut USGS) yang memicu tsunami itu membuat Sulawesi Tengah menjadi perhatian semua orang.

Badan geologi Amerika Serikat (USGS) menyebut gempa Sulawesi itu terjadi sebagai akibat pergerakan sesar mendatar pada kedalaman dangkal di bagian dalam lempeng Laut Maluku, yang juga bagian dari sesar tektonik Sunda yang lebih luas.

Berdasarkan pengamatan dan penelitian, gempa Sulteng itu mengindikasikan ada bagian yang hancur atau pecah pada salah satu sesar yang membelok ke utara-selatan, atau di sepanjang patahan yang mengarah timur-barat pada sisi-kanan.

Lembaga geologi itu menegaskan bahwa Indonesia bagian timur khas

dengan tektonik kompleks, di mana gerakan sejumlah kecil lempeng mikro yang mengakomodasi gerakan skala besar antara lempeng Ausralia, Sunda, Pasifik, dan Laut Filipina.

Di lokasi gempa Donggala 28 September 2018, menurut USGS

, lempeng Sunda bergerak ke selatan menuju sesar Molucca Sea dengan pergerakan 30 mm per tahun. Meskipun sudah jelas lokasinya di kawasan lempeng-lempeng mikro, gempa 28 September lalu itu lebih menggambarkan pergerakan di area sesar yang lebih besar.

 

sumber :

http://linux.blog.gunadarma.ac.id/2020/05/18/seva-mobil-bekas/