Pengertian Tanah

Pengertian TanahPengertian Tanah

Tanah di dalam penjelasannya memiliki pengertian yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pendapat-pendapat yang diutarakan oleh beberapa peneliti dibidangnya. Menurut Notohadiprawiro (2006), tanah adalah gejala alam permukaan daratan, yang membentuk suatu minakat (zone) yang disebut pedosfer, tersusun atas massa galir (loose) berupa pecahan dan lapukan batuan (rock) yang bercampur dengan bahan organik. Tanah bukan suatu wujud tedas (distinct), tanah disebut gejala lintas-batas antar berbagai gejala alam permukaan bumi.
Selanjutnya, Berzelius (1803) dalam Ariyanto (2009) mengungkapkan bahwa tanah merupakan laboratorium kimia alam dimana proses dekomposisi dan reaksi sintesis kimia berlangsung secara tenang. Defenisi lain mengatakan bahwa tanah adalah akumulasi tubuh alam bebas, berdimensi tiga, menduduki sebagian (besar) permukaan bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman, dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk pada kondisi topografi/relief tertentu dan selama waktu tertentu (Donahue, 1970). Pendapat ini searah dengan soil survey staff (1975) di dalam Mustafa, dkk. (2012) yang mengungkapkan bahwa tanah adalah kumpulan tubuh alami pada permukaan bumi yang dapat berubah atau dibuat oleh manusia dari penyusun-nya yang meliputi bahan organik yang sesuai bagi perkembangan akar tanaman.

Selain itu, tanah juga adalah bagian dari permukaan bumi yang terbentuk dari bahan induk (P) yang telah mengalami proses pelapukan akibat pengaruh iklim (C) terutama faktor curah hujan, suhu dan pengaruh aktivitas organisme hidup (O) termasuk vegetasi, organisme (manusia) pada suatu topografi (R) atau relief tertentu dalam jangka waktu (T) tertentu (Mustafa, dkk., 2012).

Sedangkan ahli Ilmu Tanah dari Amerika serikat yaitu Jooffe dan Marbut di dalam Kasifah (2017), memberikan definisi tanah sebagai tubuh alam (natural body) yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam (natural forces) terhadap bahan-bahan alam (natural material) di permukaan bumi. Tanah gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang dicirikan oleh adanya akumulasi bahan organik yang berlangsung dalam kurun waktu lama (Najiyati S., Muslihat L., dan Suryadiputra, 2005).

2.2 Berat Volume Tanah

Berat volume tanah atau sering disebut bobot isi tanah (bulk density) yaitu berat suatu volume tanah dalam keadaan struktur alamiah (Kasifah, 2017). Menurut Defretes et al. (1996) berat volume tanah dipengaruhi oleh bagian rongga pori tanah, struktur tanah, pertumbuhan akar, aktivitas mikroorganisme dan peningkatan bahan organik. Makin tinggi pemberian bahan organik ke dalam tanah maka berat volume akan semakin rendah, berkisar antara 1,0-1,3 g.cm-3. Pendapat ini searah dengan ungkapan Kasifah (2017), yang mengatakan bahwa berat isi atau berat volume ditentukan oleh porositas dan padatan tanah. Tanah yang renggang berpori-pori mempunyai bobot kecil per satuan volume, dan tanah padat berbobot tinggi per satuan volume tanah.
Menurut Hardjowigeno (2003), kandungan bahan organik yang tinggi menyebabkan tanah mempunyai berat jenis butiran yang rendah, ditambahkan juga oleh Blake (1986) bahwa besarnya berat jenis tanah pertanian berkisar antara 2,6 sampai 2,7 g.cm-3. Kemudian peneliti lainnya mengemukakan bahwa porisitas tanah dipengaruhi oleh susunan partikel dan struktur tanah yang mempunyai peranan bagi daya penyediaan air dan udara serta pertumbuhan akar yang secara langsung berguna bagi pertumbuhan tanaman (Islami & Utomo, 1995).
Berat volume tanah berkisar antara 1,1 – 1,6 g/cm3. Berat volume penting diketahui untuk menghitung kebutuhan pupuk atau air untuk tiap-tiap hektar tanah yang didasarkan pada berat tanah per hektar. Berat volume tanah dari berbagai tekstur dapat diketahui pada tabel 1 Kasifah (2017).